MIS for Analysis

July 31, 2019

Tips on Meeting Marginal Goals

July 31, 2019

Smart Investment Options to Save Your Tax

July 25, 2019

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Pengalaman Buruk yang Sering di Alami Franchisor

February 28, 2019

Dalam hubungan antara franchisor dan franchise, tidak selalu pengalaman baik yang terjadi. Tidak jarang ada pengalaman yang kurang menyenangkan yang dirasakan oleh kedua belah pihak. Pada artikel ini, akan dibahas mengenai pengalaman yang kurang menyenangkan yang terjadi, dari sudut pandang franchisor.

Sebagai franchisor, tentu berharap memiliki mitra yang kooperatif dan baik dalam menjalankan bisnis franchisenya. Namun ketika yang terjadi adalah sebaliknya, maka mungkin perlu persiapan langkah-langkah antisipasi yang dilakukan oleh franchisor. Pengalaman buruk yang cukup sering dialami oleh franchisor dalam hubungan dengan franchisee diantaranya:

Kejadian franchisee yang menunda atau bahkan menolak membayar royalty, sering terjadi karena franchisee merasa bisnisnya kurang untung sehingga berat untuk membayar royalty. Untuk kasus seperti ini Franchisor harus bisa memberikan pengertian bahwa royalty yang dibayarkan tersebut dapat digunakan oleh franchisor untuk memberikan program dukungan agar penjualan franchisee lebih meningkat.

Kejadian franchisee yang mengganti bahan baku dari supplier lain, biasanya terjadi karena franchisee merasa dapat membeli dengan harga yang lebih murah untuk spesifikasi bahan baku yang sama seperti yang dipasok oleh franchisor. Oleh Karena itu, franchisor perlu mengantisipasi dengan memastikan bahwa bahan baku yang dipasok merupakan bahan baku yang spesifik yang hanya dimiliki oleh franchisor atau franchisor perlu memastikan bahan baku yang dipasok kepada franchisee merupakan harga yang termurah dengan standar kualitas yang baik.

Kejadian franchisee yang membuka usaha sejenis dengan usaha yang dijalankan oleh franchisor, biasanya terjadi karena franchisee merasa kurang mendapat support dari franchisor, padahal potensi bisnis yang sedang dijalankan masih cukup besar, sehingga jalan yang ditempuh adalah membuka tambahan outlet sendiri dengan nama yang berbeda tanpa sepengetahuan franchisor.

Kejadian lain yang mungkin terjadi adalah putusnya hubungan kerjasama sebelum berakhirnya masa kerjasama. Pengakhiran masa kerjasama ini bisa karena permintaan franchisee atau permintaan franchisor. Oleh karena itu, penting untuk menjaga komitmen yang sudah disepakati diawal, agar menghindari putusnya kerjasama ditengah masa kontrak. Bentuk lain yang terjadi berkaitan dengan pengakhiran kerjasama ditengah masa kontrak adalah pengalihan outlet milik franchisee kepada pihak lain yang tidak melalui proses seleksi dari franchisor selaku pemilik merek. Proses pengalihan ini bisa dengan cara dijual atau memang dipindahtangankan saja pengelolaannya.

Keluhan dari franchisee yang juga sering terjadi karena merasa barang yang dibeli dari franchisor harganya lebih mahal dari supplier lain yang ditemui oleh franchisee. Ini mungkin terjadi karena franchisor melakukan mark up harga bahan baku yang disuplai ke franchisee terlalu tinggi sehingga barang yang dijual oleh franchisee tidak lagi kompetitif dipasaran. Oleh karena itu, sebagai bentuk dukungan dari franchisor kepada franchisee dalam menjalankan bisnisnya adalah dengan menjaga kontinuitas pasokan bahan baku serta harga bahan baku yang bersaing atau bahkan lebih murah agar keuntungan franchisee dapat optimal.

Kejadian lain yang paling fatal yang pernah terjadi, dimana franchisor belum mendaftarkan mereknya sebagai Hak Kekayaan Intelektual miliknya sehingga franchiseenya yang “nakal” malah mendaftarkan merek milik franchisor tersebut sebagai milik franchisee. Oleh karena itu sebelum memfranchisekan bisnis franchisor harus memastikan terlebih dahulu bahwa merek yang ditawarkan kepada franchisee sudah benar-benar dimiliki.

Semoga berbagai pengalaman kurang menyenangkan yang pernah terjadi pada franchisor seperti contoh di atas tidak terulang lagi dan menjadi pelajaran bagi franchisor baru atau calon-calon franchisor. Apabila ada hal mengenai franchise yang ingin didiskusikan, silahkan hubungi saya di wahdifakhrozy@ifbm.co.id

Selamat Berbisnis !

Salam,

Wahdi Fakhrozy

THE FRANCHISE CONSULTANT

wahdifakhrozy@franchiseacademy.co.id

wahdifakhrozy@ifbm.co.id

International Franchise Business Management

Member of World Franchise Associate (WFA)

 Menara Kadin Indonesia

Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3

Jakarta

Tips Menyusun Perjanjian Waralaba

February 15, 2019

Salah satu komponen persiapan yang perlu dimiliki ketika akan mewaralabakan usaha adalah perjanjian waralaba. Perjanjian waralaba akan menjadi dasar hukum yang mengikat bagi pemberi waralaba (franchisor) dan penerima waralaba (franchisee). Sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam masa kerjasama waralaba nantinya akan mengacu pada poin-poin pasal perjanjian waralaba yang ditandatangani kedua pihak tersebut.

Oleh karena itu, sebelum menyusun perjanjian waralaba, pemberi waralaba wajib untuk memahami betul kelebihan dan kelemahan dari bisnisnya. Hal ini dilakukan supaya bisa dimasukkan menjadi bagian yang diperjanjikan kepada mitra penerima waralabanya. Berikut kiat sederhana yang dapat dilakukan ketika menyusun perjanjian waralaba:

  1. Petakan kembali kelebihan dan kelemahan bisnis Anda

Ketika membuat perjanjian sebaiknya kenali betul kelebihan bisnis Anda agar dapat dimasukkan menjadi salah satu poin dukungan Anda yang dapat diberikan kepada franchisee. Sehingga ini akan memberikan nilai tambah dan keyakinan kepada franchisee tersebut, bahwa franchisornya memiliki kapabilitas untuk memberikan dukungan. Selain itu, penting juga untuk mengenali kekurangan dari bisnis Anda, sehingga dapat diproteksi dalam poin-poin perjanjian untuk menghindari tuntutan dikemudian hari oleh franchisee.

  1. Buatlah perjanjian menjadi standar

Penting untuk membuat perjanjian waralaba ini menjadi standar, sehingga seluruh franchisee Anda akan mendapatkan format perjanjian yang sama. Franchisor akan sangat kesulitan ketika perjanjian kepada setiap franchisee menjadi berbeda-beda sesuai dengan kesepakatannya masing-masing. Sehingga apabila ada masalah dengan salah satu franchisee, franchisor perlu memberikan perlakuan khusus satu per satu terhadap masing-masing franchiseenya. Hal ini tentu akan sangat merepotkan apabila sudah memiliki banyak franchisee.

  1. Upayakan seluruh pasal dibuat lengkap dan jelas

Ketika menyusun perjanjian waralaba, perlu memastikan bahwa perjanjian waralaba tersebut lengkap dan jelas. Hal ini untuk menghindari terjadinya multi tafsir terhadap poin-poin perjanjian dari para franchisee. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk membaca berulang kali draft perjanjian franchise waralaba secara detail sebelum diberikan kepada calon franchisee.

  1. Pastikan sistematika perjanjian urut

Sistematika perjanjian dibuat urut agar mudah dipahami oleh calon franhisee. Karena sebagai franchisor, memiliki perjanjian yang lengkap dan jelas saja belum cukup apabila isi perjanjian tersebut tidak dipahami oleh franchisee Anda. Oleh karena itu, perlu ada sesi khusus yang dibuat oleh franchisor untuk memastikan franchiseenya paham isi perjanjian franchise sebelum penandatanganan perjanjian. Apabila sistematika dibuat urut, franchisor akan lebih mudah menjelaskannya kepada franchisee.

  1. Konsultasikan draft perjanjian yang Anda susun

Ada baiknya draft perjanjian waralaba yang sudah disusun untuk dikonsultasikan kepada ahli hukum atau konsultan waralaba untuk mendapatkan saran dari sudut pandang lain. Hal ini dilakukan agar mendapatkan saran dari professional, karena biasanya perjanjian yang disusun oleh franchisor sangat berorientasi kepada kepentingan franchisor dan kurang berimbang kepada kepentingan franchisee.

Demikian sedikit tips ketika menyusun perjanjian waralaba. Satu lagi hal penting ketika menyusun perjanjian waralaba, hindari mencontoh perjanjian waralaba dari pihak lain untuk dijadikan draft perjanjian waralaba bisnis Anda. Karena keunikan, kelebihan serta kekurangan masing-masing bisnis tentu berbeda-beda. Perjanjian waralaba sebenarnya adalah tools bagi pemilik bisnis waralaba untuk melindungi keunikan bisnisnya atau memproteksi kekurangan bisnisnya, maka ketika Anda mencontoh draft perjanjian waralaba dari pihak lain, maka saat itu Anda sudah kehilangan keunikan atau bahkan kekurangan bisnis Anda tidak terproteksi dengan baik dalam perjanjian.

Semoga penjelasan di atas memberikan inspirasi buat Anda yang sedang menyusun perjanjian waralaba. Atau jika Anda masih kesulitan dalam menyusun perjanjian waralaba, Silahkan kontak saya di wahdifakhrozy@ifbm.co.id

Selamat Berbisnis!!

Salam,

 

 

Wahdi Fakhrozy

THE FRANCHISE CONSULTANT

wahdifakhrozy@franchiseacademy.co.id

wahdifakhrozy@ifbm.co.id

International Franchise Business Management

Member of World Franchise Associate (WFA)

 Menara Kadin Indonesia

Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3

Jakarta

Next Page »