BUSINESS CONCEPT VS BUSINESS MODEL

Sebagai konsultan franchise, dalam membimbing klien yang akan memfranchisekan bisnisnya, kami kerap melakukan konfirmasi terhadap business model yang akan diduplikasi dengan franchising. Business Model yang standar akan sangat memudahkan melakukan franchising dengan sukses. Kendalanya, seringkali ada saja Business Model yang tidak mapan standarisasinya karena Business Conceptnya belum terstruktur.
Saya ingin ulas sekali lagi topik mengenai Business Concept dan Business Model ini dalam kaitannya dengan Franchising. Saya akan coba merumuskan pemahaman Business Concept secara sederhana. Kantor konsultan franchise kami mendifinisikan Business Concept sebagai: “Gabungan gagasan/ide setiap kegiatan dalam bisnis yang terintegrasi”. Misalnya:
(1) Dari seorang pengusaha, ide bisnisnya adalah menjual ayam goreng tepung,
(2) tampilan/desain outletnya akan dibuat dengan gaya Jepang,
(3) cara memasaknya ditampilkan terbuka sehingga bisa dilihat oleh pelanggan,
(4) peralatan masaknya menggunakan alat-alat tradisional,
(5) gagasan untuk suplai ayamnya bekerjasama dengan koperasi-koperasi desa, dan seterusnya..dan seterusnya.
Gagasan-gagasan atau ide-ide ini dapat diintegrasikan/disusun dan distrukturkan menjadi KONSEP. Atau kami menyebutnya Business Concept. Mungkin belum detil, tetapi semua ide dari proses-proses dan bidang-bidang yang terkait sudah bisa diceritakan.
Jika kita coba mendetilkan Business Concept ini menjadi lebih nyata, maka hasilnya akan menjadi sebuah Business Model yang standar. Business Model yang standar itu akan terdiri dari:
Standar Bentuk, seperti: Lokasi, ukuran bangunan, desain, bahan bangunan, peralatan, organisasi, jumlah orang, jumlah dan ukuran ruangan, dan lainnya; serta
Standarisasi Proses, seperti: proses Pemasaran, proses Operasional, dan proses Administrasi serta keuangan.
Detail-detail Standarisasi Bentuk di atas, kalau kita rincikan dan konversikan dalam bentuk angka (uang) akan menggambarkan Jumlah Investasi dari bisnis model tersebut.
Sedangkan Standarisasi Proses di atas, bila kita rincikan (misalnya: kita detailkan cara melakukan launching, cara promosi, cara melayani tamu, dan lain-lainnya) dan konversikan ke angka (uang) akan memberikan gambaran mengenai Biaya Pengeluaran (overhead) setiap bulannya.
Dari proses standarisasi bentuk dan proses tersebut di atas, kita dapat melakukan simulasi bisnis tersebut dengan metoda cost oriented, artinya kita dapat melakukan simulasi target penjualan berdasarkan biaya-biaya yang sudah didetailkan. Misalnya: Jika kita sudah mengetahui berapa jumlah investasi yang diperlukan, maka kita akan dapat memperkirakan lama pengembalian Investasi dari potensi pendapatan yang kita targetkan. Atau, jika kita sudah mengetahui proyeksi pengeluaran biaya bulanan kita, maka kita akan dapat menargetkan penjualan bulanan kita agar kita bisa mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Kelanjutan proses ini akan memudahkan kita membuat proyeksi usaha.
Kaitan pembentukan Business Model di atas dengan bisnis franchise, adalah:
  1. Jika kita dapat mendetilkan setiap proses dari pembentukan Business Model tersebut, maka sebenarnya kita mempunyai proses “Mastery Bisnis” yang berguna untuk membimbing para franchisee (penerima franchise) kita.
  2. Semakin standar Business Model yang dibentuk, maka akan semakin mudah untuk dilakukan duplikasi kepada franchisee.
  3. Dalam mengelola bisnis franchise, akan semakin efektif jika kita melakukan monitoring kepada Business Model yang standar.
Seperti apa contoh Business Model yang standar itu?
Misalkan saja kita membuka usaha bisnis franchise restoran, mungkin kita akan mempunyai beberapa Business Model: ada Business Model dengan bentuk lokasi di ruko, ada Business Model dengan bentuk lokasi di Mal, atau ada juga Business Model dengan bentuk lokasi kios, dan lain-lain. Setiap standarisasi bentuk akan merupakan satu Business Model.
Dari setiap standar bentuk tersebut, masing-masing dibuatkan proses-proses kegiatan yang standar juga; yaitu proses-proses kegiatan Pemasaran, Operasional dan Administrasi/ Keuangan.
Sebelum kita Franchisekan bisnis kita, maka rumuskan Business Concept dan Business Model yang standar..
Burang Riyadi MBA
Internationa Franchise Business Management  ( IFBM )
Menara Kadin Indonesia
Jl.H.R Rasuna Said Blok X-5 Kav 2-3
Jakarta 12950  Indonesia
Telp (+62-21) 52994547  Fax (+62-21) 52994599
e-mail:franchiseconsultant@ifbm.co.id

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!