Usaha Franchise-Franchise Kaki Lima

Pak Royandi
Apa kelebihan dan kelemahan waralaba kaki lima? Kalau ingin waralaba kaki lima apa saja yang harus dipersiapkan? Terima kasih.
Erwin, Jakarta Barat
Jawab:
Pak Erwin yang baik,
Kelebihan dari waralaba kaki lima adalah pencapaian sales pada target minimumnya dapat cepat diraih dan modalnya ringan. Sedangkan untuk kelemahannya adalah bahwa pada umumnya konsep dagang kaki lima adalah konsep bisnis untuk jangka yang pendek, misalnya kurang lebih satu tahun. Atau dengan kata lain: cepat laku, cepat kembali modal, cepat ditinggalkan orang. Apa yang yang sebutkan diatas adalah kenyataan pada umumnya, dan berdasarkan pengamatan dan data yang didapat dari teman-teman yang sudah melaksanakan waralaba bagi bisnis kaki lima mereka. Artinya, ada saja yang tidak demikian keberadaannya, tapi umumnya hanya berlaku bagi bisnis induk atau bisnis kakilima yang pertama dijalankan.

Mengenai pertanyaan kedua, agak rancu pertanyaannya, apakah yang dimaksudkan hendak menjadi Franchisee dari bisnis kaki lima atau hendak menjadi Franchisor bagi bisnis kaki lima. Tapi akan diusahakan agar bisa terjawab dua-duanya.

Bila ingin menjadi Franchisee dari bisnis kaki lima, terkait dengan pernyataan pengalaman diatas, maka perlu dipersiapkan cara “exit” (cara keluar) atau menyudahi bisnis tersebut secara menguntungkan. Misalnya tutup sebelum mulai merugi. Yang dimaksud dengan tutup sebelum merugi adalah kita tahu kapan harus berhenti dalam menjalankan bisnis tersebut. Kenapa kita harus berhenti? Karena bisnis tersebut terkonsep untuk jangka pendek. Apakah bisa dipaksakan berjalan untuk jangka waktu panjang? Tentunya saja bisa, asal dasar dari konsep bisnis tersebut dapat dirubah untuk jangka panjang. Sebagai contoh, dalam bisnis makanan kaki lima, biasanya menunya sedikit dan tidak pernah berubah. Selama rasa dari makanan tersebut tidak berubah, maka pelanggan kita akan selalu kembali. Tetapi pada suatu saat (umunya setelah satu tahun), jumlah pelanggan akan terus menurun, baik karena kompetisi yang terjadi (kecuali pelanggan fanatik, yang mana umumnya tidak banyak jumlahnya) disekitarnya, maupun karena semua customer yang lewat sudah pernah mencobanya. Dengan menambah dan atau secara perlahan memodifikasi menu-menunya, maka pelanggan lama dan baru akan mulai datang kembali. Aneh tapi nyata.
Hal lain mengapa bisnis kaki lima bila di-franchise-kan pendek umurnya, adalah disebabkan karena operator bisnisnya. Bisnis aslinya, dijalankan (dioperasikan) oleh pemiliknya sendiri, sedangkan bila telah di-franchise-kan, pemilik bisnis baru (Franchisee) cenderung memakai operator, bukan dirinya sendiri. Akibatnya, apa yang sering disebut “business passion” tidak melekat pada operatornya. Biasanya operator bisnis hanya menunggu pelanggan berikut gaji bagi dirinya sendiri pada akhir bulan.

Bagaimana bila bisnis kaki lima ini di-franchise-kan? Artinya pemilik bisnis akan menjadi Franchisor. Sama saja halnya, yaitu kembali kepada konsep bisnisnya. Bila telah menyadari bahwa konsep bisnis kaki lima adalah bisnis yang tidak lama umurnya, maka perlu pemahaman untuk menjadikan bisnis tersebut memiliki umur yang panjang. Atau memang sengaja didesain berumur pendek, dengan mempersiapkan Franchisee untuk segera exit pada kondisi-kondisi tertentu yang sudah ditentukan. Kenapa demikian? Karena seperti telah disebutkan diatas, umumnya operator bisnisnya bukanlah Franchisee sendiri. Kenapa Franchisee tidak mau menjalankan sendiri? Karena umumnya calon Franchisee yang memilih bisnis kaki lima adalah tipikal investor, bukan owner operator. Mereka berpikir untuk bisa mendapatkan pendapatan sampingan (tipe investor), bukan untuk mengganti penghasilan (tipe owner operator).

Dalam franchising dikenal istilah monitoring dan kontrol. Fungsi dari monitoring dan kontrol adalah untuk dapat membantu Franchisee menjalankan bisnis sesuai pengalaman sukses dari Franchisor. Dalam Peraturan Pemerintah No.42, tahun 2007, tentang Waralaba, ditegaskan bahwa Franchisor wajib memberikan bantuan secara terus-menerus (continuous supports). Hal ini memang adalah salah satu ciri dalam franchising yang membuatnya berhasil. Biaya untuk melakukan monitoring dan kontrol diambil dari Royalty Fee. Bila sebuah bisnis mempunyai nilai sales yang besar, maka nilai penerimaan dari Royalty Fee akan besar, dan sebaliknya. Dalam bisnis kaki lima, nilai sales tidaklah cukup besar, sehingga nilai penerimaan dari Royalty Fee-pun tidak cukup untukmenutup beban operasional dari monitoring dan kontrol. Bagaimana bila jumlah Franchisee-nya banyak, sehingga dapat terkumpul pendapatan dari Royalty Fee yang memamadai? Kenyataan tetap saja kesulitan, karena dengan jumlah Franchisee yang banyak, dibutuhkan personil monitoring dan kontrol yang banyak pula. Jadi, dalam mem-franchise-kan bisnis kaki lima, benar-benar dibutuhkan kekuatan dalam konsep bisnis yang menghasilkan sebuah bisnis model yang memberikan untung bagi kedua belah pihak (Franchisee dan Franchisor).

Selamat berbisnis.

30974-moc_cover_biru_depo-isi-ulang

Video