Membuat Model Bisnis Standar Agar Mudah Diduplikasi

artikel ini juga pernah dipublikasikan di Majalah Pengusaha edisi Pertengahan 2013

ilustrasi-franchiseFranchising merupakan salah satu cara untuk menduplikasi bisnis. Berbicara tentang duplikasi bisnis dengan sistem franchise, maka tak akan lepas dengan istilah standarisasi, karena dalam franchising duplikasi bisnis yang dilakukan cenderung standar antara outlet satu dengan lainnya. Sebelum membahas lebih dalam mengenai standarisasi, lebih baik memahami terlebih dahulu mengenai model bisnis.

Model bisnis dapat diartikan sebagai deskripsi (uraian) lengkap mengenai: gagasan, filosofi, bentuk, produk/jasa, dan cara usaha yang dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai unit usaha yang akan dijalankan sehingga menjadi panduan usaha, yang dapat diterjemahkan dalam bentuk proyeksi keuangan.  Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa model bisnis haruslah jelas, rinci dan mudah dipahami sehingga setiap item investasi yang dibutuhkan untuk membentuk model bisnis tersebut dapat dihitung dengan tepat.

Alexander Osterwalder dan Yves Pigner dalam bukunya yang berjudul Business Model Generation bahkan menjelaskan dengan baik dan sederhana apa yang dimaksud dengan model bisnis. Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa untuk membentuk model bisnis yang detail cukup rumit, namun ada sebuah metode yang mereka kembangkan sehingga model bisnis dapat disederhanakan dan digambarkan hanya dalam sebuah kanvas atau dikenal dengan istilah business model canvas (BMC). Untuk membentuk model bisnis terdiri dari 9 elemen yaitu: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partnerships dan Cost Structure. Setiap elemen tersebut akan digambarkan dalam sebuah kanvas untuk memudahkan dan menyederhanakannya.  Berikut contoh Business Model Canvas (BMC) :

Business Model CanvasMetode BMC dapat digunakan dalam membentuk model bisnis yang standar ketika melakukan persiapan franchise. Karena dalam franchising, model bisnis merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Franchise memiliki prinsip dasar dengan menduplikasi bisnis yang telah sukses untuk dibuka di lokasi yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum menduplikasi bisnis perlu dipahami betul apa itu model bisnis; mengapa suatu model bisnis bisa unggul dibanding model bisnis lainnya; apa keunikan model bisnis tersebut; lalu  bagaimana cara membentuk model bisnis yang ”menang bersaing”. Calon pengusaha franchise perlu menggali betul bisnisnya dan mencari tahu apa saja yang membuat bisnisnya bisa unggul dibanding kompetitor. Keunggulan atas kompetitor setidaknya bisa dikaji atas 4 hal, yaitu produk, harga, lokasi, dan promosi.

Setelah menemukan keunggulan atas model bisnis yang telah dimiliki, maka barulah bisa berbicara mengenai standarisasi model bisnis tersebut untuk mempermudah proses duplikasinya di tempat lain. Jadi dengan kata lain, menduplikasi bisnis dengan sistem franchise haruslah dengan memastikan bahwa bisnis tersebut sudah sukses terlebih dahulu baru dibuat menjadi standar. Indikator bisnis sukses dapat terlihat dari laporan keuangannya. Dari laporan keuangan dapat terlihat apakah bisnis tersebut untung atau rugi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.42 Tahun 2007 tentang Waralaba disebutkan bahwa sebuah bisnis yang layak dikatakan sebagai bisnis waralaba/franchise harus bisa menunjukkan laporan keuangannya 2 tahun terakhir dan terbukti untung. Dari sini terlihat jelas bahwa usaha yang akan difranchisekan haruslah usaha yang proven bukan usaha yang baru dibuat. Berdasarkan pengalaman sukses inilah model bisnis akan distandarisasi.

Dalam membuat model bisnis yang standar sebaiknya disesuaikan dengan filosofi bisnis, visi berbisnis jangka panjang dari pemilik, serta misinya. Hal ini bertujuan agar model bisnis yang dibangun memiliki landasan yang kuat. Ini penting untuk menunjukkan bahwa usaha franchise yang dibangun bukan usaha jangka pendek melainkan usaha yang akan terus berkembang. Calon franchisee juga dapat melihat komitmen franchisor dan timnya dalam membangun bisnis tersebut.

Ada 2 hal utama yang perlu distandarkan dalam melakukan standarisasi model bisnis, yaitu standarisasi bentuk dan standarisasi proses. Berikut standarisasi model bisnis yang perlu dilakukan :

 Standar Model Bisnis

1. Standarisasi Bentuk

Standarisasi bentuk adalah standarisasi yang dilakukan terhadap hal-hal yang berwujud yang ada dalam model bisnis, Misalnya kriteria lokasi; perijinan dan legalitas; Desain; Ukuran bangunan; spesifikasi bangunan; perlengkapan & atribut bangunan outlet/gerai; peralatan operasional hingga fasilitas dan kegiatan lainnya yang perlu ada sebelum bisnis berjalan. Bila standarisasi bentuk yang telah dijelaskan sebelumnya diuraikan dalam bentuk biaya pengadaannya, akan mencerminkan Biaya Investasi pada bisnis.

  2. Standarisasi Proses

Standarisasi proses adalah standarisasi yang dilakukan terhadap proses-proses yang ada pada unit bisnis yang akan diduplikasi. Standarisasi proses umumnya dapat dibagi secara sederhana, menjadi 3 proses:

  • Proses pengelolaan Pemasaran (marketing): branding, promosi, dan penjualan.
  • Proses pengelolaan Operasional: penerimaan pelanggan, produksi, penyajian/pelayanan pelanggan, transaksi, dan pembinaan hubungan pelanggan.
  • Proses pengelolaan Administrasi & Keuangan: kesekretariatan, HRD, Legal, General Affair/biro umum, & Keuangan.

Bila uraian standarisasi proses ini dilengkapi dengan jumlah kebutuhan orang dan dikonversikan ke biaya, maka akan mencerminkan besarnya Biaya Operasional bulanan.

Selain standarisasi proses pada unit bisnis, untuk jenis bisnis tertentu yang berbasis produk maka akan butuh proses produksi. Pada unit produksi ini juga memiliki proses-proses. Proses pada unit produksi dapat disederhanakan menjadi:

  • Pengelolaan Sumberdaya Bahan Baku (raw material)
  • Proses pengelolaan Produksi
  • Proses Pengelolaan Distribusi

Standarisasi bentuk dan standarisasi proses yang telah diuraikan dengan jelas sebaiknya dibuat dalam bentuk tertulis. Hal ini bertujuan sebagai arsip dan menjaga keutuhannya. Apabila bisnis yang sedang ingin difranchisekan memiliki 2 ukuran yang berbeda atau 2 kriteria lokasi yang berbeda, maka penjabaran proses bisnisnya akan ada 2 pula. Umumnya model bisnis dibuat dalam beberapa jenis bertujuan untuk menyesuaikan dengan target market yang ingin dituju.

Meskipun salah satu kriteria dari sistem franchise adalah dapat distandarkan. Namun ada beberapa jenis bisnis yang sulit untuk distandarkan, misalnya bisnis yang berhubungan dengan karya seni, atau bisnis yang memiliki bahan baku yang langka. Pada dasarnya mayoritas bisnis dapat distandarkan. Oleh karena itu, sistem franchise dapat diadopsi dalam berbagai industri.

Model bisnis yang “menang bersaing” dan selalu berinovasi sesuai dengan tren pasar menjadi kunci sukses dalam franchising. Oleh karena itu, setelah memiliki model bisnis yang standar jangan berhenti untuk mengevaluasi dan mengembangkannya agar tetap unggul.

bila ada yang ingin didiskusikan mengenai franchise, jangan ragu kirim email ke saya di wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com

salam,

 

Wahdi Fakhrozy
International Franchise Business Management ( IFBM )
Franchise Consultant Firm
Menara kadin Indonesia 30 Floor
Jl.HR.Rasuna Said Blok X-5 Kav 2-3
Jakarta 12950
Phone: (+62-21) 52994547
Fax     : (+62-21) 52994599


army-navy-b-tn

30974-moc_cover_biru_depo-isi-ulang

Video